Tata Cara Melakukan dan Niat Puasa Qadha Ramadhan (Bayar Utang)

Segera lunasi kewajiban Puasa Qadha Ramadhan di bulan Sya'ban. Artikel ini menjelaskan aturan penggabungan niat puasa wajib dan sunnah sesuai mazhab Syafi'i.

Bulan Sya’ban merupakan bulan terakhir dalam kalender Hijriah sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Bagi umat Islam, bulan ini menjadi momentum penting untuk mempersiapkan diri secara fisik maupun spiritual. Salah satu aktivitas krusial yang perlu diperhatikan di bulan Sya’ban adalah menyelesaikan kewajiban Puasa Qadha Ramadhan Alias bayar utang puasa Ramadhan.

Urgensi Melunasi Puasa Qadha Ramadhan di Bulan Sya’ban

Puasa Qadha adalah puasa yang dilakukan untuk mengganti utang puasa Ramadan yang ditinggalkan karena alasan syar’i, seperti haid, sakit, atau sedang dalam perjalanan (safar). Mengganti utang puasa adalah kewajiban yang harus diprioritaskan sebelum memasuki Ramadan berikutnya.

Bulan Sya’ban dianggap sebagai kesempatan terakhir untuk melunasi kewajiban tersebut. Hal ini merujuk pada kebiasaan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan dalam hadis:

“Dulu aku memiliki tanggungan utang puasa Ramadan, dan aku tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menunda Puasa Qadha Ramadhan hingga melewati Ramadan berikutnya tanpa alasan yang dibenarkan secara agama hukumnya berdosa. Selain tetap wajib mengganti puasa, orang tersebut juga dikenakan denda berupa fidyah (memberi makan fakir miskin).

Hukum Menggabungkan Niat Puasa Qadha dan Puasa Sunnah

Banyak orang ingin menjalankan Puasa Qadha Ramadhan bertepatan dengan hari-hari yang memiliki keutamaan sunnah, seperti Senin dan Kamis. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai keabsahan menggabungkan dua niat dalam satu waktu.

Dalam literatur fiqih Mazhab Syafi’i, terdapat penjelasan mengenai Tasyrikun Niyyah atau penggabungan niat:

  • Hukumnya Boleh dan Sah: Mayoritas ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa menggabungkan niat puasa wajib (Qadha) dengan puasa sunnah yang memiliki waktu spesifik (Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, atau puasa enam hari Syawal) adalah sah.
  • Mendapatkan Dua Pahala: Pelaku puasa mendapatkan pahala dari kewajiban yang gugur (Qadha) dan pahala sunnah karena puasa dilakukan pada hari-hari mulia tersebut.
  • Logika Hukum: Tujuan dari puasa sunnah seperti Senin-Kamis adalah agar hari tersebut diisi dengan aktivitas berpuasa. Ketika seseorang melakukan puasa wajib pada hari itu, maka tujuan dari puasa sunnah tersebut secara otomatis telah terpenuhi.

Namun, sangat-sangat disarankan agar niat untuk bayar utang diniatkan untuk bayar utang puasa Ramadhan secara khusus. Kalaupun memang bertepatan dengan hari senin, kamis, atau tengah-tengah bulan, maka pahala puasa sunnah juga didapatkan.

Tata Cara dan Pelafalan Niat yang Benar

Meskipun penggabungan niat diperbolehkan, terdapat kaidah penting yang harus dipatuhi: Niat wajib harus menjadi prioritas utama.

Ketentuan Niat

  1. Niat Wajib Mencakup Sunnah: Jika seseorang berniat puasa wajib, maka pahala sunnahnya bisa didapatkan.
  2. Niat Sunnah Tidak Mencakup Wajib: Jika seseorang hanya berniat puasa sunnah, maka utang puasa Ramadan-nya tidak dianggap lunas.

Lafal Niat Puasa Qadha

Niat dilakukan di dalam hati pada malam hari sebelum waktu subuh. Berikut adalah lafal niat secara lisan untuk membantu kemantapan hati:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi Ramadhāna lillāhi ta’ālā.

Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadan esok hari karena Allah Ta’ala.”

Jika Anda menjalankan puasa ini pada hari Senin atau Kamis, Anda tidak wajib melafalkan “niat puasa Senin”, namun cukup menyadari dalam hati bahwa Anda melakukan kewajiban tersebut di hari yang utama.

Puasa Qadha pada Hari-Hari Istimewa Lainnya

Aturan penggabungan niat ini juga berlaku untuk hari-hari istimewa di bulan Sya’ban, seperti:

  • Ayyamul Bidh: Tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah.
  • Nisfu Sya’ban: Pertengahan bulan Sya’ban.

Melakukan Puasa Qadha Ramadhan pada tanggal-tanggal tersebut merupakan strategi yang efektif untuk melunasi kewajiban sekaligus menghidupkan waktu-waktu yang penuh berkah.

Pilihan Terbaik: Memisahkan atau Menggabungkan Niat?

Terdapat dua pendekatan yang bisa diambil sesuai dengan kondisi fisik dan waktu masing-masing individu:

  1. Pendapat yang Lebih Hati-hati (Ihtiyath): Sebagian ulama menyarankan untuk memisahkan hari antara puasa Qadha dan puasa sunnah agar ibadah lebih sempurna. Pilihan ini lebih utama jika Anda memiliki banyak waktu luang dan fisik yang kuat.
  2. Pendapat Penggabungan Niat: Ini adalah solusi bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau memiliki banyak tunggangan utang puasa yang harus segera diselesaikan sebelum Ramadan tiba.

Ketentuan Fidyah sebagai Penyempurna

Bagi individu yang memiliki kondisi tertentu sehingga tidak mampu lagi menjalankan puasa, seperti lansia atau orang sakit menahun, kewajiban Puasa Qadha Ramadhan digantikan dengan membayar Fidyah.

Fidyah adalah memberikan makan satu orang miskin untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan. Besaran fidyah yang umum digunakan adalah satu mud (sekitar 675 gram hingga 750 gram) bahan pokok.

Penyaluran fidyah harus tepat sasaran kepada golongan fakir dan miskin agar ketaatan menjelang Ramadan menjadi sempurna.