Pertanyaan mengenai hari ini puasa ke berapa menjadi informasi yang sangat penting bagi umat Muslim untuk memantau progres ibadah di bulan suci. Pada 10 Maret 2026 hari ini, posisi hari puasa di Indonesia memiliki dua versi hitungan yang berbeda akibat adanya perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah. Perbedaan ini merupakan hal yang lumrah karena adanya keberagaman metode, yakni metode Hisab (perhitungan astronomis) dan metode Rukyat (pengamatan hilal).
Mengetahui urutan hari puasa secara tepat membantu kalian dalam mengatur manajemen waktu ibadah, target khatam Al-Qur’an, hingga persiapan menyambut malam Lailatul Qadar. Mengingat hari ini telah memasuki bulan Maret, sebagian besar umat Muslim di Indonesia saat ini sedang berada di fase sepuluh hari kedua Ramadan. Fase ini dikenal secara spiritual sebagai fase Maghfirah atau masa penuh ampunan dari Allah SWT.
Daftar Isi Artikel
Perbedaan Metode Penetapan Awal Ramadan 1447 Hijriah di Indonesia
Pemerintah melalui Kementerian Agama serta organisasi keagamaan memiliki parameter tertentu dalam menentukan jatuhnya tanggal 1 Ramadan. Secara umum, terdapat dua acuan utama yang digunakan oleh masyarakat Indonesia:
- Versi Muhammadiyah: Menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
- Versi Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU): Berdasarkan pengamatan hilal di lapangan dan Sidang Isbat, awal Ramadan diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Adanya selisih satu hari dalam memulai puasa ini menyebabkan perbedaan angka pada hitungan hari puasa yang kalian jalani saat ini.
Rincian Urutan Hari Puasa hingga Sekarang
Berdasarkan perbedaan awal Ramadan yang telah disebutkan, posisi pada 10 Maret 2026 hari ini memiliki dua versi perhitungan. Kalian dapat menyesuaikan hitungan ini dengan keputusan organisasi atau pemerintah yang kalian ikuti saat mengawali ibadah puasa tahun ini.
Maka hari ini Selasa, 10 Maret 2026 bertepatan dengan puasa ke-21 bagi warga Muhammadiyah atau puasa ke-20 bagi yang mengikuti pemerintah dan NU
1. Urutan Puasa Versi Muhammadiyah
Bagi umat Muslim yang mengikuti maklumat Muhammadiyah dan mulai berpuasa pada 18 Februari 2026, maka pada 10 Maret 2026 hari ini sedang menjalankan ibadah puasa hari ke-21.
- Kalian sudah hampir menyelesaikan separuh perjalanan bulan Ramadan.
- Momentum ini sangat tepat untuk mengevaluasi konsistensi ibadah yang telah berjalan selama dua pekan terakhir.
2. Urutan Puasa Versi Pemerintah dan NU
Bagi kalian yang mengikuti ketetapan Pemerintah dan NU dengan awal puasa pada 19 Februari 2026, maka tanggal 10 Maret 2026 merupakan puasa hari ke-20.
- Meskipun terdapat selisih satu hari, kalian tetap berada dalam rentang fase sepuluh hari kedua Ramadan.
- Fokus utama pada hari ke-20 ini adalah memperbanyak istigfar dan menjaga kualitas puasa agar tetap prima hingga akhir bulan.
Tabel Visualisasi
| Tanggal Masehi | Hari | Pemerintah/NU | Muhammadiyah |
| 2 Maret 2026 | Senin | Puasa Ke-12 | Puasa Ke-13 |
| 3 Maret 2026 | Selasa | Puasa Ke-13 | Puasa Ke-14 |
| 4 Maret 2026 | Rabu | Puasa Ke-14 | Puasa Ke-15 |
| 5 Maret 2026 | Kamis | Puasa Ke-15 | Puasa Ke-16 |
| 6 Maret 2026 | Jumat | Puasa Ke-16 | Puasa Ke-17 |
| 7 Maret 2026 | Sabtu | Puasa Ke-17 | Puasa Ke-18 |
| 8 Maret 2026 | Minggu | Puasa Ke-18 | Puasa Ke-19 |
| 9 Maret 2026 | Senin | Puasa ke-19 | Puasa Ke-20 |
| 10 Maret | Selasa | Puasa ke-20 | Puasa ke-21 |
| 11 Maret | Rabu | Puasa ke-21 | Puasa ke-22 |
Kapan Malam Lailatul Qadar Diperkirakan Tiba di Tahun 2026?
Pencarian malam Lailatul Qadar 1447 H diprediksi jatuh pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yang secara masehi diperkirakan mulai jatuh pada malam tanggal 10 atau 11 Maret 2026. Penentuan ini bergantung pada apakah awal Ramadan ditetapkan pada tanggal 19 atau 20 Februari 2026.
Mengingat signifikansi malam ini yang lebih baik dari seribu bulan, pemantauan jadwal harus dilakukan secara cermat pada rentang tanggal 10 hingga 20 Maret 2026. Secara astronomis, persiapan fisik dan spiritual perlu ditingkatkan sejak malam ke-21 guna mengantisipasi perbedaan awal penanggalan yang mungkin terjadi antara metode hisab dan rukyat.
