Apa itu KNetz? Berikut Definisi, Asal-Usul, dan Kekuatannya

Pahami definisi KNetz, sejarah istilahnya menurut ahli komunikasi, serta pengaruh besar mereka dalam menentukan nasib para idola K-Pop saat ini.

Istilah “KNetz” viral kembali dan memuncaki daftar trending topik terpopuler di platform X (dahulu Twitter) sepanjang Februari 2026. Fenomena ini dipicu oleh serangkaian perdebatan panas yang melibatkan warganet Korea Selatan dengan komunitas digital Asia Tenggara yang menamakan diri mereka “SEAblings”.

Mengenal Definisi dan Kekuatan Digital KNetz

KNetz merupakan akronim dari Korean Netizen, sebutan bagi warga internet asal Korea Selatan yang dikenal memiliki basis komunitas sangat vokal dan terorganisir. Identitas mereka biasanya terpusat pada portal komunitas lokal seperti Nate Pann, TheQoo, Instiz, hingga Naver.

Dalam ekosistem hiburan, KNetz memiliki pengaruh masif yang mampu menentukan kelangsungan karier seorang figur publik. Kelompok ini sering dikaitkan dengan fenomena cancel culture atau boikot sosial yang sangat ketat terhadap artis yang dianggap melanggar norma etika atau hukum.

Standar yang diterapkan oleh KNetz mencakup banyak aspek, mulai dari bakat, perilaku di masa lalu, hingga penampilan fisik. Kekuatan kolektif ini sering kali diwujudkan melalui aksi pengiriman truk protes ke agensi hingga tuntutan resmi agar seorang idola keluar dari grupnya jika terlibat skandal.

Pemicu Konflik di X: Insiden Konser Day6 Malaysia

Perseteruan terbaru yang ramai dibicarakan di medsos X bermula dari penyelenggaraan konser band K-Pop, Day6, di Axiata Arena, Kuala Lumpur, pada Sabtu, 31 Januari 2026. Konflik pecah saat sejumlah fansite asal Korea Selatan kedapatan melanggar aturan promotor.

Para fansite tersebut membawa kamera DSLR dan lensa tele profesional ke dalam area konser, yang secara teknis dilarang demi kenyamanan penonton lain. Aksi penyelundupan perangkat ini viral setelah diunggah oleh penonton lokal Malaysia, yang kemudian memicu kecaman luas di media sosial.

Meski pihak fansite yang bersangkutan telah menyampaikan permohonan maaf, situasi justru memanas di platform X. Sejumlah akun yang diduga KNetz muncul untuk membela fansite tersebut dengan narasi yang dianggap merendahkan budaya dan aturan negara tuan rumah.

Eskalasi Hinaan terhadap No Na dan Baskara Mahendra

Ketegangan digital ini meluas secara sistemik ketika KNetz mulai menyasar figur publik asal Asia Tenggara. Salah satu sasaran utamanya adalah girl group asal Indonesia, No Na, setelah video musik lagu mereka yang berjudul “Work” viral.

Seorang pengguna KNetz melontarkan komentar verbatim bernada rasis: “Apakah mereka begitu miskin sehingga tidak mampu menyewa studio dan harus syuting di sawah? … Apakah mereka sedang dalam perjalanan menanam bibit padi?”. Komentar ini langsung memicu kemarahan kolektif warganet Indonesia.

Tak berhenti di situ, aktor Indonesia Baskara Mahendra juga terseret dalam pusaran konflik pada Jumat, 13 Februari 2026. Hal ini berawal saat seorang netizen Indonesia menggunakan foto Baskara sebagai profil akun X miliknya, lalu dihina oleh KNetz yang membandingkan wajah sang aktor dengan pekerja pabrik di Korea.

Munculnya Solidaritas Digital “SEAblings”

Sebagai bentuk perlawanan, warganet dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam bersatu di bawah identitas “SEAblings” (South East Asia Siblings). Mereka melakukan serangan balik dengan menyoroti isu-isu sensitif di Korea Selatan.

Salah satu bentuk protes yang viral di X adalah sindiran terhadap keterbatasan kemampuan bahasa Inggris KNetz melalui kalimat satire: “Speakeu englisheu, pleaseu. I donteu undertsandeu abouteu whateu you saideu.” Perseteruan ini kini menjadi kajian menarik mengenai dinamika sosiologi digital lintas negara.

Hingga pertengahan Februari 2026, tagar #SEAblings masih terus digunakan sebagai simbol persatuan digital Asia Tenggara dalam melawan narasi rasisme dan diskriminasi fisik yang dilontarkan oleh oknum KNetz.