Setiap tahun, umat Muslim di seluruh dunia menyambut datangnya bulan suci yang penuh berkah. Namun, di tengah antusiasme tersebut, sering kali muncul keraguan mengenai cara menuliskan nama bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah ini dengan tepat. Apakah menggunakan huruf “h” di tengahnya atau tidak?
Memahami penulisan Ramadan yang benar sangat penting bagi kalian yang ingin menghasilkan karya tulis, konten media sosial, atau pesan formal yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Artikel ini akan mengulas tuntas aturan ejaan yang berlaku agar kalian tidak lagi keliru dalam menuliskan istilah keagamaan ini.
Daftar Isi Artikel
Asal-Usul dan Makna Etimologi Kata Ramadan
Sebelum masuk ke aturan ejaan, penting bagi kalian untuk memahami sejarah di balik penamaan bulan ini. Secara etimologi, kata Ramadan berasal dari bahasa Arab, yaitu “Romadh”. Kata ini secara harfiah memiliki arti yang cukup unik, yaitu “panas menyengat” atau “membakar”.
Ada alasan logis mengapa masyarakat Arab menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada bulan ke-9 Hijriyah:
- Kondisi Geografis: Ramadan secara historis jatuh pada musim panas di mana sinar matahari terasa jauh lebih terik dibandingkan bulan-bulan lainnya.
- Konteks Ibadah: Secara filosofis, panas tersebut juga sering dikaitkan dengan proses “pembakaran” dosa-dosa melalui ibadah puasa yang dijalankan oleh umat Muslim.
- Sejarah Islam: Di balik suhu yang membakar ini, bulan Ramadan menjadi istimewa karena merupakan waktu turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Aturan Penulisan Ramadan yang Benar Menurut KBBI
Jika kalian mencari kata “Ramadhan” (dengan huruf ‘h’) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kalian akan menemukan bahwa bentuk tersebut dikategorikan sebagai bentuk tidak baku. Penulisan yang benar dan sah dalam bahasa Indonesia adalah Ramadan.
KBBI menetapkan standar ini bukan tanpa alasan. Sebagai bahasa yang dinamis, bahasa Indonesia memiliki aturan penyerapan unsur asing yang ketat untuk menjaga konsistensi. Penggunaan satu huruf “d” tanpa imbuhan “h” bertujuan untuk menyederhanakan pelafalan dan penulisan sesuai dengan fonologi bahasa kita.
Mengapa Huruf “dh” Dihilangkan dalam Kata Serapan?
Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa konsonan ganda seperti “dh” tidak diadopsi sepenuhnya? Berikut adalah beberapa alasan teknis di balik standarisasi tersebut:
- Kaidah Kata Serapan: Bahasa Indonesia melakukan penyesuaian pada kata asing agar lebih selaras dengan lidah masyarakat lokal. Huruf “dh” dalam bahasa Arab (dari huruf Dad) diserap menjadi huruf “d” tunggal.
- Keseragaman Nasional: Aturan ini tidak hanya berlaku untuk bahasa Arab, tetapi juga untuk bahasa daerah. Misalnya, banyak kata dari bahasa Jawa yang aslinya menggunakan “dh”, namun dalam penulisan baku bahasa Indonesia, huruf “h” tersebut wajib dihilangkan.
- Mencegah Kerancuan: Menghilangkan huruf “h” membantu mencegah ambiguitas dalam penulisan dan memudahkan sistem pencarian data atau dokumentasi resmi negara.
Penggunaan Huruf Kapital pada Penulisan Ramadan
Selain masalah huruf “h”, hal lain yang sering membingungkan adalah penggunaan huruf kapital. Sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) atau yang kini kembali ke istilah EYD, kata Ramadan harus selalu diawali dengan huruf kapital.
Hal ini dikarenakan Ramadan merupakan nama bulan dalam sistem penanggalan, sama halnya dengan Januari, Februari, atau bulan-bulan dalam kalender Masehi lainnya. Jadi, pastikan kalian menulis “Bulan Ramadan” atau “Ramadan” dengan huruf “R” besar, baik di awal kalimat maupun di tengah kalimat.
